Mengenal Depresi
Menurut KBBI, stres merupakan gangguan emosional yang disebabkan oleh faktor luar. Umumnya manusia menerima stresor (penyebab stres) yang berasal dari peristiwa netral (misalnya: ujian, dikejar deadline, atau membayar tagihan) sebagai tantangan atau ancaman. Maka, respon yang diberikan pun ada dua, yaitu: eustres dan distres. Eustres (stres positif) membuat seseorang lebih berambisi untuk mengalahkan stres, misalnya, dengan giat belajar agar mampu menghadapi ujian, mengatur jadwal agar mampu mengerjakan tugas tepat waktu, bekerja keras agar mampu membayar tagihan, dls. Sementara distres (stres negatif) justru menyebabkan seseorang merasa sedih dan tidak berdaya sehingga respon yang diberikan pun cenderung sebaliknya.
Kortisol merupakan hormon yang aktif saat respon terhadap stresor bekerja. Kortisol akan menyiapkan glukosa berlebih di dalam tubuh sebagai energi untuk mekanisme tersebut. Manusia akan memilih salah satu respon yang sesuai dengan kapasitas dirinya. Baik eustres maupun distres akan meningkatkan kadar kortisol dalam tubuh. Perlu diketahui bahwa toleransi stres setiap orang berbeda. Jika terlalu sering mengalami stres, kortisol yang ada di dalam tubuh kita akan selalu dalam keadaan tinggi dan jika dibiarkan terlalu lama, stres ini bisa menjadi stres kronis dan berkembang menjadi berbagai gangguan kesehatan fisik seperti migrain, sakit dan kaku di sekujur tubuh, bahkan penyakit yang berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah atau gangguan kesehatan mental yang lebih berat, seperti depresi. Oleh sebab itu, permasalahannya bukan seberapa sepele penyebab stres seseorang melainkan seberapa besar dampak dari respon yang diberikan pada diri orang yang bersangkutan.
Sementara itu, depresi biasanya muncul setelah seseorang menghadapi stresor yang cukup mengguncang pada kehidupan, misalnya: kematian, perpisahan/perceraian, PHK, gagal masuk universitas impian, dls. Namun, depresi berbeda dengan perasaan berduka (grief). Menurut Dr. Elisabeth Kubler-Ross, depresi merupakan salah satu tahap dari lima tahap kesedihan (the five stage of grief). Depresi merupakan kondisi ketika seseorang dilanda rasa sedih yang berkepanjangan disertai beberapa gejala tertentu yang menyebabkan seseorang tidak dapat menjalani kehidupannya secara optimal. Perhatikan gejala depresi menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder sebagai berikut:
1. Depressed mood (seperti sedih, merasa kosong, hampa, dls);
2. Kehilangan minat dan kesenangan dalam semua atau hampir semua kegiatan sepanjang hari;
3. Penurunan atau kenaikan berat badan yang signifikan, dan penurunan atau kenaikan nafsu makan hampir setiap hari;
4. Insomnia atau hypersomnia hampir setiap hari;
5. Psikomotor lamban atau menunjukkan kegelisahan hampir setiap hari;
6. Kelelahan atau kehilangan energi hampir setiap hari;
7. Perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan;
8. Berkurangnya kemampuan untuk berpikir, berkonsentrasi, atau tidak bisa mengambil keputusan hampir setiap hari;
9. Pikiran berulang tentang kematian, ide bunuh diri yang berulang tanpa rencana khusus, atau adanya rencana spesifik untuk melakukan bunuh diri atau sekadar keinginan pasif untuk tidak terbangun dari tidur di pagi hari atau keyakinan bahwa orang lain akan lebih baik tanpa dirinya.
Depresi termasuk penyakit. Perhatikan perbedaan penggunaan kata 'sakit' dalam bahasa Inggris untuk mendeskripsikan 'sakit' pada depresi berikut:
• Disease (penyakit) yaitu penyimpangan dari norma biologis, sesuatu yang ada di tubuh, bagian tubuh, organ atau sistem tubuh; serta ada objektivitas tentang penyakit yang dapat dilihat, disentuh, diukur bahkan dicium oleh dokter sehingga bisa diberi diagnosis dengan jelas.
• Illness (penyakit) yaitu pengalaman tidak sehat yang dialami seseorang tetapi tidak bisa diberikan diagnosis yang jelas. Ketika seseorang mengeluhkan sakit di area tubuh tertentu, bisa jadi itu merupakan gejala dari sakit fisik atau sakit mental. Sakit kepala saja, misalnya, tidak bisa disebut penyakit karena belum mendapatkan diagnosis yang jelas. Namun bisa dikategorikan illness karena orang tersebut sedang dalam keadaan tidak sehat.
• Sickness (keadaan sakit) adalah cara publik melihat suatu keadaan tidak sehat; berperan seperti label atau stigma.
• Disorder (gangguan) adalah kondisi ketika tubuh atau mental kita tidak berfungsi seperti biasanya; lazimnya merupakan kumpulan dari beberapa gejala yang mengacaukan fungsi tubuh dan mental seseorang.
Beberapa gejala depresi dianggap tidak nyata dan tidak bisa diamati di tubuh sehingga istilah disorder digunakan untuk mendeskripsikan depresi. Namun, tidak sedikit para ahli di bidang kesehatan mental yang menggunakan kata illness karena depresi di tahap ringan tidak terdiagnosis tetapi tetap mengganggu aktivitas orang yang mengalaminya. Kata illness juga digunakan karena lebih erat kaitannya dengan penyakit fisik. Depresi juga bisa dianggap disease karena memiliki landasan biologis dari gen, perubahan hormon dan penyusutan pada struktur otak. Secara sederhana, depresi adalah ketidakseimbangan biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Itu artinya, meskipun depresi biasanya muncul setelah seseorang menghadapi stresor yang cukup berat, penyebab depresi yang sesungguhnya baru bisa diketahui atau benar-benar dipastikan hanya setelah dikonsultasikan kepada psikolog atau psikiater.
Jika kita mengalami lima atau lebih dari beberapa gejala depresi di atas, segera konsultasikan diri ke psikolog atau psikiater. Saat kita mengalami depresi, karena depresi merupakan penyakit, maka cara untuk menyembuhkannya adalah dengan berobat. Anggap saja pemeriksaan kesehatan mental yang kita lakukan sama seperti saat kita memeriksa kesehatan fisik. Kita datang karena merasa ada yang salah dengan diri kita, kita datang untuk mencari tahu penyebabnya, dan kita menginginkan kesembuhan. Sama halnya seperti saat kita mendapat gangguan pada kesehatan fisik, setelah kita tahu penyebab adanya gangguan pada kesehatan mental, kita akan mendapat diagnosis yang memungkinkan kita untuk mencari tau solusi demi kesembuhan atas gangguan kesehatan mental yang kita alami—nantinya.
Sederhananya, mekanisme kesehatan mental ini hampir mirip dengan mekanisme kesehatan fisik. Kita bisa menganalogikan stresor seperti bakteri yang asalnya bisa darimana saja dan orientasi respon psikis kita (eustres dan distres) seumpama imun tubuh. Bedanya, stresor bukan sesuatu yang bisa diamati di bawah mikroskop seperti bakteri. Cakupan kesehatan mental juga luas dan yang membuatnya lebih rumit adalah observasi penyebab gangguan kesehatan mental yang kita alami menyangkut interaksi sosial kita dengan orang lain di luar diri kita sendiri. Oleh sebab itu, bisa dikatakan bahwa stigma yang selalu diterapkan oleh masyarakat pada orang yang mengalami gangguan kesehatan mental sebetulnya tidak ada artinya dan diskriminasi yang mereka lakukan sama sekali tidak berdasar.
Mengalami depresi tidak selalu berarti sama dengan stigma yang masyarakat berikan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an surat Adz-Dzariyat ayat 56 yang artinya: "Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." Selain itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman yang artinya: "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, "Kami telah beriman," sedangkan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2). Mengutip postingan Bayu Adi Saputra (salah satu FL di akun FB-ku dulu), "Untuk sebagian orang, tetap bertahan dan memilih hidup di kala pikiran menggila, sangat dapat diniatkan sebagai ibadah. Sholat itu ibadah, puasa itu ibadah, zikir itu ibadah, tetapi gak bisa kamu lakukan kalo kamu mati. Maka, tetap mengusahakan untuk hidup dapat diniati ibadah. Makan itu ibadah, minum juga ibadah, bekerja itu ibadah. Bertahan hidup melawan depresi? Ibadah."
Sumber:
Machdy, R. (2019). Loving the Wounded Soul. Gramedia Pustaka Utama.